LOMBOK TENGAH — Nama Muhammad Azhari mungkin tak pernah dipanggil ke depan kelas untuk menerima penghargaan sebagai juara satu. Nilai rapornya juga tak membuatnya dikenal sebagai bintang akademik di sekolah.
Tetapi Ahmad Syapoin masih mengingat satu kebiasaan muridnya itu: disiplin.
“Kalau secara akademik, Azhari tidak pernah mendapatkan ranking satu. Nilainya biasa-biasa saja. Tapi memang dia anak yang cukup disiplin,” kata Kepala Program Keahlian Perhotelan SMK Islam Sirajul Huda Paok Dandak itu.
Beberapa tahun berlalu. Murid yang dahulu duduk di bangku Jurusan Akomodasi Perhotelan tersebut kini mengenakan seragam loreng dan baret hijau.
Azhari telah menjadi prajurit TNI Angkatan Darat.
Ia berpangkat Prajurit Dua atau Prada di Korps Infanteri. Azhari kini berdinas di lingkungan Kodam III/Siliwangi dan bertugas di satuan Yonif 339 di Sumedang, Jawa Barat.
Bagi Syapoin, kabar itu seperti membuka kembali ingatan tentang seorang siswa yang dulu menjalani hari-hari sekolah sebagaimana kebanyakan teman seangkatannya.
Azhari bukan anak yang selalu rangking atas nilai akademiknya. Namun aktifitasnya di sekolah banyak justru diluar kelas.
Ia hobi ekstrakurikuler. Ia ikuti Pramuka. Aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS. Ia juga tercatat mengikuti Palang Merah Remaja.
Pagi harinya, Azhari mengikuti Diniyah bersama siswa lainnya. Program itu menjadi bagian dari pendidikan kepesantrenan yang diterapkan SMK Islam Sirajul Huda.
Di sekolah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak itu, siswa SMK memang tidak hanya diposisikan sebagai pelajar sekolah kejuruan. Mereka juga menjalani pendidikan sebagai santri.
Dari Perhotelan ke Infanteri
Azhari lahir di Pantung pada 5 Juli 2003 dan berasal dari Kelurahan Darmaji, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah.
Ia masuk SMK Islam Sirajul Huda dan memilih Akomodasi Perhotelan. Azhari menjadi bagian dari angkatan pertama program keahlian tersebut dan menyelesaikan pendidikannya pada 2021.
Bila mengikuti garis lurus nama jurusannya, barangkali orang akan membayangkan Azhari bekerja di hotel: mengenakan seragam pelayanan, menyambut tamu, atau bekerja di industri pariwisata.
Azhari mengambil jalan lain.
Ia memilih dunia militer.
Seragam perhotelan berganti loreng. Pelajaran pelayanan tamu berganti dengan kehidupan seorang prajurit infanteri. Disiplin yang dulu terlihat sederhana di sekolah kini menjadi bagian penting dari profesinya.
Perjalanannya menunjukkan sesuatu yang kerap luput ketika membicarakan pendidikan kejuruan: jurusan sekolah bukan vonis pekerjaan seumur hidup.
Sekolah memberikan bekal. Setelah itu, kehidupan dapat membawa seseorang ke banyak pintu.
Dan Azhari memilih pintu pengabdian sebagai tentara.
“Kalian Tetap Santri”
Kabar Azhari menjadi prajurit disambut bangga para pengurus Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda, Ahmad Jumaili, mengatakan keberhasilan itu menjadi kabar menggembirakan bagi lembaga. Bukan semata karena ada alumni yang berhasil menjadi anggota TNI, melainkan karena seorang anak yang pernah dididik di Sirajul Huda kini menemukan jalan pengabdiannya.
Namun Jumaili mengingatkan bahwa keberhasilan alumni tidak cukup diukur dari seragam, pangkat, jabatan, atau profesi yang mereka peroleh.
Ada bekal lain yang menurut dia justru harus tetap dibawa.
“Apapun profesi kalian, yang penting jaga akhlak dan jaga sholat,” kata Jumaili.
Ia mengingatkan para alumni bahwa sekalipun menempuh pendidikan di SMK, mereka tumbuh dalam lingkungan pesantren.
“Walaupun sekolahnya SMK di Sirajul Huda, kalian adalah santri. Di mana pun berada, apapun profesinya, tetap jaga akhlak dan berbuat baik kepada semua orang,” ujarnya.
Pesan itu tidak hanya ditujukan kepada Azhari.
Sirajul Huda telah meluluskan sedikitnya 16 Angkatan. Banyak alumninya yang kemudian menjalani jalan hidup berbeda-beda. Ada yang melanjutkan pendidikan, bekerja, berwirausaha, hingga mengabdi dalam berbagai profesi.
Menurut Jumaili, cerita perjalanan mereka perlu kembali sampai ke pondok.
Bukan untuk sekadar memajang keberhasilan alumni, tetapi agar guru mengetahui ke mana murid-murid yang dahulu mereka didik melangkah.
Cerita alumni, kata dia, juga dapat menjadi energi bagi pengurus yayasan dan pengelola sekolah yang setiap hari berhadapan dengan pekerjaan pendidikan yang terkadang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
“Alumni yang lain juga berikan kabar dan cerita ke pondok seperti Azhari dan beberapa alumni lainnya,” kata Jumaili. “Itu menjadi motivasi bagi pengurus yayasan, pengelola SMK, dan adik-adiknya yang sekarang masih sekolah.”
Jangan Lupakan Guru
Ada satu pesan lain yang dititipkan Jumaili kepada para alumni: jangan merasa hubungan dengan sekolah selesai setelah ijazah diterima.
“Jangan lupakan guru,” ujarnya.
Ia berharap alumni yang merantau dan suatu saat kembali ke Lombok menyediakan waktu untuk datang ke Paok Dandak.
“Kalau pulang ke Lombok, jangan lupa mampir dan menyapa almamater tempatmu belajar dulu.”
Pesan itu terdengar sederhana. Tetapi bagi sebuah sekolah di kampung, kedatangan seorang alumni setelah bertahun-tahun pergi kadang mempunyai arti tersendiri.
Guru bisa melihat bagaimana anak yang dahulu duduk di kelas telah tumbuh. Adik kelas bisa mendengar bahwa masa depan tidak hanya milik mereka yang sejak sekolah selalu menjadi juara.
Azhari adalah salah satu contohnya.
Dulu nilainya biasa-biasa saja. Ia tak pernah menjadi ranking satu.
Yang tertinggal dalam ingatan gurunya justru kedisiplinan, Pramuka, OSIS, PMR, dan rutinitas Diniyah pagi.
Kini Azhari berdiri jauh dari ruang kelas tempat ia pernah belajar. Seragamnya telah berganti. Lingkungannya juga berubah.
Tetapi dari perjalanan itu, ada pelajaran yang barangkali lebih panjang usianya daripada angka-angka di rapor:
tidak semua anak yang kelak berhasil harus lebih dahulu menjadi juara kelas.
Kadang-kadang sekolah hanya perlu memastikan seorang anak memperoleh bekal yang cukup—ilmu, disiplin, keberanian, dan akhlak—sebelum membiarkannya menemukan sendiri jalan pengabdiannya.

