Setelah lulus, para alumni yang pernah belajar di Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak menempuh jalan yang berbeda-beda. Sebagian melanjutkan pendidikan, sebagian bekerja, sebagian memilih membangun usaha. Ada yang menjadi dokter, guru, kepala desa, hingga entrepreneur.

Mereka tidak lagi duduk di ruang kelas yang sama. Tidak lagi setiap hari berjumpa dengan guru-guru yang dahulu mengajar mereka. Namun bagi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda, Ahmad Jumaili, kelulusan tidak serta-merta memutus hubungan seseorang dengan tempat ia pernah belajar.

“Alumni Sirajul Huda diharapkan tidak melupakan almamater tempatnya pernah menuntut ilmu, menjaga nama baik yayasan, keluarga dan masyarakat,” kata Ahmad Jumaili.

Pesan itu berangkat dari perjalanan panjang Sirajul Huda sejak berdiri pada 1972. Dalam rentang lebih dari setengah abad, yayasan tersebut telah melahirkan ribuan alumni yang kemudian menyebar ke berbagai ruang kehidupan.

Tidak semuanya menempuh jalan yang sama. Ada yang bekerja di bidang yang sesuai dengan pendidikan lanjutannya. Ada pula yang tumbuh melalui pengalaman, usaha, dan kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

Perbedaan itu, kata Ahmad Jumaili justru menjadi kebanggaan.

Bagi yayasan, keberhasilan alumni tidak hanya terlihat ketika seseorang mendapatkan gelar tinggi atau menduduki jabatan tertentu. Guru yang mengajar di ruang kelas, kepala desa yang melayani warga, dokter yang merawat pasien, atau pengusaha yang membangun usahanya masing-masing memiliki medan pengabdian sendiri.

“Adalah kebanggaan kita semua terhadap mereka,” ujarnya.

Namun di tengah kebanggaan itu, ada hal yang menurutnya lebih penting daripada sekadar mengetahui sejauh mana seorang alumni telah melangkah: apakah hubungan dengan guru dan almamater masih terjaga.

Guru yang Tetap Tinggal di Belakang

Seorang murid biasanya bergerak maju. Setelah menyelesaikan satu jenjang pendidikan, ia masuk ke jenjang berikutnya, bekerja, membangun keluarga, atau pindah ke tempat lain.

Guru sering kali tetap berada di tempat yang sama.

Setiap tahun mereka menerima murid baru, mengajarkan pelajaran yang hampir sama, lalu mengantarkan satu angkatan demi satu angkatan meninggalkan sekolah.

Karena itu, Ahmad Jumaili mengingatkan para alumni agar keberhasilan tidak membuat mereka lupa kepada orang-orang yang pernah mendampingi perjalanan awal mereka.

Hubungan itu tidak harus selalu diwujudkan dengan sesuatu yang besar. Menyapa ketika bertemu, menanyakan kabar, datang ketika ada kesempatan, atau kembali berkomunikasi dengan teman-teman lama merupakan bagian dari silaturahmi yang ingin terus dijaga.

Yayasan juga berusaha menyediakan ruang untuk hubungan tersebut melalui portal alumni.sirajulhuda.sch.id. Alumni dari berbagai generasi diharapkan dapat kembali terhubung dengan yayasan, para guru, dan teman-teman seangkatan yang mungkin telah lama kehilangan komunikasi.

Portal itu bukan sekadar tempat mencatat nama dan tahun kelulusan. Setidaknya, itulah harapan yayasan. Ia diinginkan menjadi jembatan antara orang-orang yang kini hidup di tempat dan lingkungan yang berbeda.

Alumni sebagai “Sirodj”

Ketua Yayasan yang juga menjadi Ketua MDS Rijalul Ansor NTB ini mempunyai perumpamaan tersendiri ketika membicarakan alumni Sirajul Huda.

Ia menyebut mereka “Sirodj”—lampu.

Istilah itu diambil dari nama Sirajul Huda sendiri. Siraj berarti pelita atau lampu. Dalam bayangannya, orang-orang yang pernah dididik di Sirajul Huda adalah lampu-lampu yang kemudian dibawa ke banyak tempat.

“Kalian itu adalah ‘Sirodj’, lampu-lampu Sirajul Huda yang memberikan cahayanya kepada umat,” katanya.

Perumpamaan tersebut sederhana. Sebuah lampu tidak harus terus berada di tempat ia pertama kali dinyalakan. Ia justru berguna ketika ditempatkan di ruang yang membutuhkan cahaya.

Begitu pula alumni.

Ada yang membawa pengetahuan dan pengalamannya ke sekolah sebagai guru. Ada yang bekerja melayani masyarakat. Ada yang membangun usaha. Ada yang menempuh pendidikan lebih tinggi dan kemudian menjalani profesi tertentu.

Mereka memang tidak lagi berada di Paok Dandak setiap hari. Tetapi ia berharap nilai-nilai yang pernah dipelajari tetap ikut bergerak bersama mereka.

Dalam pengertian itu, alumni bukan orang yang selesai dengan pesantren. Mereka hanya memasuki ruang pengabdian yang berbeda.

Sambungan yang Jangan Terputus

Perumpamaan tentang lampu itu kemudian berkembang menjadi analogi lain.

Sebuah lampu bisa diletakkan jauh dari sumber listrik. Tetapi untuk tetap menyala, ia membutuhkan sambungan.

“Layaknya sebuah lampu, jaga sambungan kabelnya agar tetap nyambung, tidak putus ke generator, genset-nya yaitu Sirajul Huda dan keluarga besarnya,” ujarnya.

Generator yang ia maksud tentu bukan mesin dalam arti sebenarnya.

Ia merujuk pada hubungan dengan almamater, para guru, dan keluarga besar Sirajul Huda—orang-orang serta lingkungan yang pernah mengambil bagian dalam perjalanan pendidikan seorang alumni.

Jika sambungan itu terjaga, kata Ahmad, lampu akan tetap menyala.

Ia lalu menyisipkan kalimat dengan nada ringan: “Jangan sampai konslet, apalagi putus.”

Kalimat itu sebenarnya memuat pesan yang lebih luas. Yayasan tidak berharap alumni terus berkumpul di satu tempat atau harus selalu kembali secara fisik. Mereka justru diharapkan berkembang, pergi ke tempat yang lebih jauh, mendapatkan pengalaman baru, dan mengambil peran masing-masing.

Yang diminta hanya satu: jangan kehilangan hubungan.

Lebih dari Lima Dekade Perjalanan

Sejak 1972, Sirajul Huda telah melewati pergantian generasi. Murid yang dahulu duduk di bangku sekolah kini sebagian telah menjadi orang tua. Guru-guru berganti. Bangunan berubah. Lingkungan pendidikan juga terus berkembang.

Namun alumni tetap menjadi salah satu jejak paling panjang sebuah lembaga pendidikan.

Gedung dapat diperbaiki. Kurikulum dapat berubah. Nama program dapat berganti. Tetapi perjalanan seorang alumni di tengah masyarakat menjadi bagian dari cerita yang tidak selalu tercatat dalam dokumen sekolah.

Itulah sebabnya Ahmad menempatkan silaturahmi sebagai sesuatu yang penting.

Bagi Sirajul Huda, alumni bukan hanya angka dalam daftar lulusan. Mereka adalah orang-orang yang kini membawa nama keluarga, guru, dan almamater ke tempat masing-masing.

Sebagian mungkin dikenal karena prestasinya. Sebagian lain bekerja jauh dari perhatian publik.

Tetapi ukurannya, bagi yayasan, tidak semata siapa yang paling sukses.

Yang lebih penting adalah apakah seseorang tetap membawa manfaat dari tempat ia berada.

Dan apakah, sejauh apa pun ia melangkah, masih ada jalan untuk kembali menyapa guru dan teman-teman lamanya.

Sebab lampu-lampu itu memang tidak dibuat untuk berkumpul di satu ruangan.

Mereka harus menyebar.

Yang perlu dijaga hanyalah sambungannya.

Bagikan:WhatsAppFacebookXTelegram