LOMBOK TENGAH, Sirajulhuda.id | MTs Sirajul Huda Paok Dandak, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menerapkan Metode Tamyiz untuk mempercepat kemampuan siswa menerjemahkan Al-Qur’an dan memahami struktur bahasa Arab.
Metode pembelajaran ini memungkinkan siswa mempelajari dasar-dasar ilmu nahwu dan sharaf dengan pendekatan yang lebih sederhana, sehingga mereka tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengenali susunan kata dan memahami makna ayat yang dibaca.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda, Ahmad Jumaili, mengatakan penerapan Metode Tamyiz merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an di lingkungan madrasah.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya pandai membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahami maknanya. Melalui Metode Tamyiz, mereka diperkenalkan cara menerjemahkan Al-Qur’an dengan pendekatan yang lebih mudah dan menyenangkan,” ujarnya, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki siswa madrasah, terutama sebagai bekal untuk mendalami Al-Qur’an, hadis, dan kitab-kitab keislaman.
“Harapan kami, ketika lulus dari madrasah, siswa sudah memiliki dasar yang kuat untuk memahami Al-Qur’an dan mempelajari kitab kuning. Jadi, mereka tidak hanya belajar membaca teks Arab, tetapi juga mengetahui arti dan susunan kalimatnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala MTs Sirajul Huda, Ustadz Mujitahidin, menjelaskan bahwa Metode Tamyiz mengajarkan siswa mengenali unsur-unsur bahasa Arab secara bertahap, mulai dari kata hingga susunan kalimat.
“Anak-anak diajak mengenali kata, membedakan jenis-jenisnya, kemudian memahami bagaimana kata-kata itu membentuk kalimat. Dengan cara ini, proses belajar menerjemahkan Al-Qur’an diharapkan menjadi lebih mudah,” jelasnya.
Ia mengatakan metode tersebut dapat diterapkan kepada siswa yang sudah mampu membaca Al-Qur’an, tanpa harus terlebih dahulu menguasai ilmu nahwu dan sharaf secara mendalam.
“Selama ini bahasa Arab sering dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Melalui Metode Tamyiz, kami ingin mengubah anggapan itu dan membuat siswa lebih bersemangat mempelajarinya,” tambahnya.
Metode Tamyiz sendiri merupakan formulasi pembelajaran tata bahasa Arab yang dikenal dengan konsep Quantum Nahwu-Shorof. Metode ini pertama kali diperkenalkan kepada publik pada 4 Juli 2009 dan dikembangkan untuk memudahkan pembelajaran penerjemahan Al-Qur’an serta kitab kuning.
Dalam kajian mengenai pembelajaran Metode Tamyiz, pendekatan ini disebut dapat digunakan oleh berbagai kelompok usia yang telah mampu membaca Al-Qur’an, termasuk anak-anak usia sekolah dasar.
Metode tersebut juga dikenal dengan konsep pembelajaran menerjemahkan Al-Qur’an dan kitab kuning dalam waktu kurang dari 100 jam. Meski demikian, pencapaian kemampuan peserta didik bergantung pada proses dan intensitas pembelajaran.
Melalui penerapan metode ini, MTs Sirajul Huda berharap dapat memperkuat kemampuan bahasa Arab siswa sekaligus membekali mereka dengan keterampilan dasar untuk memahami kandungan Al-Qur’an dan literatur keislaman.[]



